?

Log in

No account? Create an account

Nano Nano?

Long time no writing here. I just dunno what to do with my journal. I'm not that kind of DIARY-WRITING girl, anyway. I write a lot, but my writing is, commonly, not about me.

I love yaoi/shounen ai, but not hard cores. I hate hard cores, in fact, even though they are about two (or more) men having sex. Yeah, sex isn't my thing (though this kind of thing is always present in my works of yaoi), and I hate PWP stories.

In the earlier years of my yaoi milestones, I loved making sex scenes for my yaoi fan fictions, I admit that. And yes, they are explicit ones. But no, I have never put them in any kind of web page, except one title in fanfiction.net , which I just came to realize that the fic is no longer there. Thank God, cuz it sucks!

And recently, I read compilation of Rahasia Bulan (Luna's Secret--I think it reflects the title better in English than Moon's Secret). LGBT works are there. Short stories in Indonesian about LGBT. Andrei Aksana's there. But his isn't my favorite one. I love this story about Massimo. It's simple, but I love the way the author conveys the story. Just like I know Massimo, or I am Massimo.

I cite this short stories for you to read, but PLEASE DO NOT VIOLATE IT!

(It's in Indonesian, by the way. enjoy ^^)

Anak Yang Ber-Rahasia

Ucu Agustin

Tahukah kau apa yang dilakukan orang-orang zaman dulu saat memiliki rahasia tapi enggan membaginya dengan orang lain, sementara ia sangat butuh untuk bercerita?

Ia akan pergi ke hutan. Mencari batang pepohonan tertua dan lantas memilih salah satu di antaranya. Melubangi batang pohon itu dan membisikkan rahasia terdalanbta pada lubang di tubuh sang pohon. Ia akan menutup lubang di pohon tersebut dengan lumpur atau sebangsa tanah basah lainnya. Menunggu hingga tanah itu kering, menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskan napasnya.

Rahasianya telah aman bersama sang pohon…

Dan pertanyaan-pertanyaan itu muncul di benak Massimo kecil saat mendengar hal tersebut dari kakeknya.

Akan dibutuhkan berapa banyak pohonkah untuk mampu menampung seluruh rahasia manusia bila mereka semuanya begitu ber-rahasia dan tak mau membaginya dengan orang lain? Apa yang ajab terjadi bila suatu hari pohon itu mati, tumbang karena badai, atau terpaksa ditebas karena pohonnya menghalangi jalan atau akan dijadikan papan untuk rumah, dibuat boneka kayu, dijadikan kursi atau perkakas rumah tangga lainnya? Akankah rahasia itu mati bersama sang pohon? Ataukah rahasia itu tetap menempel di pohon tersebut dan bersemayam di situ selamanya? Bersemayam dalam daging pohon itu selama ia masih memiliki wujud, tak peduli apapun bentuknya?

Pertanyaan itu tak pernah dilontarkan Massimo kepada kakeknya. Pertanyaan itu juga tak pernah dikeluarkan Massimo dari benaknya. Pertanyaan itu hanya disimpan Massimo dalam kepalanya. Seperti ribuan bahkan jutaan pertanyaan lain yang terus bertambah dan menjadi iring-iringan yang semakin panjang di kepala Massimo. Pertanyaan-pertanyaan yang terus membuat barisan dan berpawai mengitari seluruh membran sel otak di kepalanya. Pertanyaan-pertanyaan yang ia coba cari sendiri jawabannya. Pertanyaan yang kelak ketika Massimo benar-benar tahu arti jatuh cinta, membuatnya bisa menulis pesan ini untuk Juliana.

Aku pergi, Mom.

Tapi aku tetap tinggal bersamamu.

Janganlah heran, bila suatu saat kau mendengar suara seumpama bisik yang dating daru rak bukumu atau dari lantai kayu di rumah kita. Siapa tahu itu suara dari rahasia seseorang yang sama sekali tak kaukenal. Dan janganlah pula kau terkejut bila suatu hari kau mendengar gumam lirih seumpama gumamku, dating dari salah satu sudut meja atau kursi di rumah kita. Bukan pendengaranmu yang salah, Mom, tapi mungkin saja itu kebetulan yang sempurna.

Aku tidak pernah menceritakan ini padamu, Mom. Juga tidak cerita-cerita lainnya. Sejak kanak kau menyebutku anak yang ber-rahasia. Dan sebutanmu itu menempel di kepalaku. Mengoperasikan kerja perilakuku, menjadikanku benar-benar diam dan yakin kalau aku adalah seorang anak yang ditakdirkan untuk selalu menyimpan segala cerita dan rahasia, seorang diri.

Aku memang memiliki banyak rahasia. Dan aku tak bisa membaginya dengan makhluk yang bisa bicara. Mereka tak bisa dipercaya. Aku membaginya dengan tumbuhan. Karena mereka hanya berteman dengan angin. Angin tak memiliki kota tempat menetap. Mereka hanya memiliki tempat lahir tapi tidak tempat tinggal. Semua cerita yang dikisahkan tumbuhan hanya akan didengar sekilas oleh mereka. Dan mereka, para angin itu, akan mendengar begitu banyak cerita, tapi semua hanya sekilas semata. Aku tak keberatan bila rahasiaku terbagi sekilas dengan angin melalui perantaraan tumbuhan dan pepohonan…

Maka, Mom, inilah pengakuanku.

Pada suatu hari yang tak kau tahu. Suatu hari di masa kecilku, aku telah berbagi rahasia dengan cara yang diceritakan Kakek. Cara yang telah dilupakan orang. Cara-cara lama seperti yang dilakukan orang-orang zaman dahulu. Membisikkan rahasia milikku pada lubang pohon di hutan yang kemudia kayunya mungkin saja menjadi salah satu keping di lantai kayu di rumah kita atau menjadi salah satu perkakas di sana. Maka setidaknya bila suatu hari kau mendengar sebuah suara yang semirip suaraku, pilihlah alasan yang kau suka. Katakanlah kau berhalusinasi. Sebutlah kau terhantui atau bahkan merasa mendengar bisik suara hantu yang menyerupai suaraku. Tapi aku hanya berharap, masukkanlah kisah yang tadi kuceritakan sebagai salah satu sebab kenapa suaraku bisa muncul di telingamu. Anggaplah kayu itu memantulkan suara rahasia-rahasiaku…

Aku tak bisa bercerita lebih banyak lagi, Mom. Kau tahu aku akan selalu menjadi anakmu yang ber-rahasia. Bukan aku tak ingin membaginya denganmu, tapi tak bisa. Tak bisa.

Aku telah menyimpan rahasia ini sejak berumur delapan tahun. Dan sepanjang sisa usiaku setelahnya, aku selalu ingin menceritakan rahasia ini padamu. Tapi tak mungkin. Tak bisa. Maka kuputuskan untuk pergi.

Ya, aku pergi, Mom.

Tapi percayalah, aku tetap tinggal bersamamu.

Rumah itu kini sepi. Tak ada lagi lelaki di sana. Robert memutuskan pergi saat perkawinannya dengan Juliana telah berjalan sebelas tahun. Massimo pergi dua bulan setelah ulang tahunnya yang kedua puluh. Hanya dua perempuan yang kini menghuni rumah bertingkat tersebut. Juliana dan Euis. Juliana, perempuan campuran Palembang-Denmark berusia empat puluh dua tahun. Euis, perempuan asal Cianjur yang menemani Juliana sejak Massimo pergi dua bulan yang lalu. Usianya baru enam belas.

Apakah kau memiliki rahasia? Seperti angin yang berhenti berembus tanpa bilang kenapa atau seperti lebah yang merahasiakan pada putik bunga tentang makna dengungnya. Apakah yang kaurahasiakan? Sesuatu yang memalukankah? Atau sebuah tindakan yang bila orang lain mengetahuinya maka kau akan menjadi orang yang berbeda dalam pandangan mereka? Kenapa Massimo pergi? Apakah yang dirahasiakannya?

Perempuan berambut cokelat itu menatap foto di hadapannya. Massimo kecil memakai sweter tebal di tengah lapangan salju. Bersama sepupunya Peter dan Larissa, mereka tengah sibuk membuat boneka salju. Di belakangnya, Robert dan Juliana tengah berpelukan sambil tertawa. Liburan menjelang Natal, Paris, tiga belas tahun silam.

Massimo…,” Juliana menyebut nama anaknya, lirih. Jemari tangannya mengusap wajah lelaki kecil yang berada dalam bingkai foto.

Juliana bisa mengendus itu sebenarnya. Gadis-gadis yang tak pernah dibawa Massimo. Cara Massimo menatap teman-teman lelakinya, Cara berpakaian putranya. Kecenderungannya yang halus dalam berperilaku.

Ah, kenapa Massimo harus menutupi semua itu dariku? Kenapa Massimo menduga aku tak bisa menerima keberadaannya? Dunia sudah terbuka, Massimo, mengapa kau berpikir dunia ibumu begitu sempit?

Simpanlah rahasia itu tepat di bawah kulit arimu saja. Itu kalau kamu tak cukup kuat. Cara kerja rahasia yang tak mampu kadaluwarsa, lebih dahsyat dari cara kerja hulu ledak rudal dalam menghentikan dan meledakkan hatimu. Maka jangan pernah sekali pun meletakkan atau menyimpan rahasia di dalam hati. Jangan! Hatimu akan koyak dan kau akan menjalani hidup seperti orang yang hanya memiliki setengah hati.

Sore itu tak akan pernah bisa dilupakan Massimo. Ibunya sedang tidak di rumah. Kakek harus check-up. Kadar gula darahnya naik drastis. Massimo sedang memberi makan ikan molly di akuarium kecil dalam kamarnya saat ayahnya tiba-tiba muncul dan menariknya dari belakang. Massimo tertawa-tawa kesenangan. Robert memanggulnya di atas kepala dan melempar-lemparkan badan Massimo kecil di udara. Massimo berteriak girang. Ayah-beranak itu tertawa-tawa. Tapi saat jemari ayahnya menggelitik tubuh kecil Massimo di atas kasur, ada tatapan aneh terlihat di mata Robert. Tatapan asing yang tak pernah Massimo kenal sebelumnya. Tatapan yang membuat Massimo yang waktu itu baru berusia delapan tahun dipaksa menyimpan ratusan rahasia di balik kulit arinya dan membuatnya membiasakan diri untuk memelihara jutaan pertanyaan di kepalanya. Pertanyaan yang tak pernah ia lontarkan. Rahasia yang ia coba tahan supaya tak bisa menjebol hatinya. Rahasia yang sangat ingin ia ceritakan pada ibunya, Juliana. Rahasia yang terus mengganggu tidur malamnya. Rahasia yang tak kunjung kadaluwarsa tapi juga tidak bisa membusuk dalam ingatannya. Rahasia tentang berpuluh-puluh adegan yang di dalamnya hanya ada ia dan ayahnya. Di atas kasur di kamar Massimo. Di dekat kamar mandi saat Massimo akan bersegera pergi ke sekolah. Di rumah Kakek saat Juliana sedang sibuk mengurus ayahnya yang sakit. Tarikan tangan Robert yang keras dan kencang. Napas ayahnya di leher belakang Massimo. Jeritan dan tangis kecilnya saat sang ayah mengentak keras di tubuh bagian belakangnya.

Selama ini kamu menyimpannya sendiri?” Lelaki itu menatap Massimo. Dari kejauhan, laut di depan mereka terus membuat gulungan ombak setinggi dua-tiga meter.

Kini tidak lagi.” Massimo menatap ombak yang jauh di depan mereka. “Aku tak berhasil menemukan pohon tempatku menitipkan rahasia dulu. Mungkin petir membuatnya tumbang. Tapi aku menemukanmu, dan rahasia itu telah kubagi sekarang.” Tangan Massimo menyentuh ujung jari lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu. Lelaki bernama Agung itu tersenyum mendengar ucapan Massimo. Tangan Massimo yang putih lentik sudah berada dalam genggamannya kini.

Aku memang ditakdirkan menjadi pohon rahasiamu,” lelaki itu mengedipkan mata kanannya dan tertawa. Tangannya yang sebelah kiri kini menyibak rambut depan Massimo yang acak-acakan dipermainkan angin.

Ibuku sangat mencintai Robert. Aku tak mau menyakiti Juliana.” Massimo menyandarkan kepalanya di bahu Agung. “Ia bahkan tak tahu Robert pergi karena aku mengancamnya.”

Oh ya?” Agung menatap Massimo tercengang. Pacarnya yang masih muda itu memang banyak memiliki rahasia. Dan satu per satu Massimo telah membuka rahasia itu padanya.

Robert pergi meninggalkanku dan Juliana waktu aku masih berumur sepuluh. Aku mengancam akan bunuh diri kalau ia masih begitu padaku. Dan ia takut.” Massimo menarik napas panjang. “Tapi ibuku terus-terusan menangis. Dan aku tak berniat mengganggu kesedihannya yang tak berguna.”

Ia juga pasti sedang menangis sekarang.” Lelaki di samping Massimo membenarkan letak jaket parasutnya yang kocar-kacir dipermainkan angin.

Setidaknya kali ini ia menangis untuk alasan yang benar. Menangisi anaknya yang tak mau membagi kebenaran yang menyakitkan tentang suaminya. Ayahku.” Dan begitu saja Massimo berdiri saat kalimatnya usai. Menepuk-nepuk pasir di bagian belakang celananya dan mengulurkan tangannya pada Agung.

Ke mana?” Agung mendongakkan kepalanya.

Jalan-jalan.” Massimo menggerakkan kedua telapak tangannya, member isyarat ajakan untuk cepat pergi. Agung tertawa. Pacarnya memang seorang pendiam yang memiliki semangat spontan yang luar biasa. Lelaki itu kini turut bangkit. Tapi tiba-tiba ia mengambil posisi seolah hendak duduk kembali.

Ada apa?” Massimo menatap pasangannya, heran.

Biasa banget sih kamu? Dompet nih ketinggalan!” Lelaki itu mengangsurkan dompet kulit berwarna krem milik lelaki muda di hadapannya. Dan Massimo buru-buru mengambilnya sambil tersenyum.

Agung tak tahu, sesungguhnya anak yang ber-rahasia akan tetap memiliki rahasia tak peduli berapa banyak rahasia yang telah diungkapkannya.

Di antara lipatan dalam dompet Massimo yang baru saja diberikannya, selembar foto tersimpan di sana.

Massimo kecil memakai sweter tebal di tengah lapangan salju. Bersama sepupunya Peter dan Larissa, mereka tengan sibuk membuat boneka salju. Di belakangnya, Robert dan Juliana tengah berpelukan sambil tertawa. Liburan menjelang Natal, Paris, tiga belas tahun silam.

Bila saja Agung melihat foto tersebut, ia pasti akan sangat terkesiap. Lelaki dalam foto yang tengah berpelukan dengan Juliana begitu mirip dengannya. Ya, wajah lelaki itu amat mirip dengan parasnya. Amat sangat mirip….

***

Cerpen ini pernah dimuat di Media Indonesia, 2005



Here's the disclaimer...

JudulRahasia bulan: kumpulan cerpen
PenulisIs Mujiarso, Gramedia Pustaka Utama, PT.
PenerbitGramedia Pustaka Utama, 2006
ISBN9792217886, 9789792217889
Tebal228 halaman
Yup, I've finished watching it. There are 11 episodes. Well, finally the cases have been solved out...and all culprits discovered [the only disappointing one is Shirota's absence after 6th episode, so I had to watch the rest 5 episodes without seeing his manliness *sobs*].Well, the ending should've been more dramatic, I think. 

 
 


Team Batista no Eiko

I just watched this dorama recently:
  • Title: チーム・バチスタの栄光
  • Title (romaji): Team Batista no Eiko [The Glory of Team Batista]
  • Format: Renzoku
  • Genre: Mystery
  • Episodes: 11
  • Viewership ratings: 13.2 (Kanto)
  • Broadcast networks: Fuji TV, KTV
  • Broadcast period: 2008-Oct-14 to 2008-Dec-23
  • Air time: Tuesday 22:00
  • Theme song: Mamoritai Mono by Aoyama Thelma (青山 テルマ (http://www.thelma.jp))
Synopsis

There exists a legendary team of surgical experts in Tojo University Hospital that specializes in the Batista procedure - one of the most difficult cardiac surgeries with the survival rate only at 60%. Ever since its formation, this team has shocked the country by having 27 consecutive post-operative successes, virtually unheard of in the medical community. They basked in the glory until three of the most recent procedures resulted in consecutive deaths on the operating table. Taguchi, a psychosomatic medicine specialist, has been entrusted with the investigation but is in over his head because of his soft nature and having to deal with skills beyond his realm of expertise. Then arrives Shiratori, a cocky Ministry of Health Labor and Welfare investigator. He not only labels Taguchi naive, but speaks with confidence that this is a murder, and the murderer is within this team of elites. As the mystery unfolds, so does the complicated affiliation between each of the seven team members. Will this unlikely duo uncover the truth in time?

To add, the choices are:
a. coincidence
b. medical error
c. serial murder

Cast Team Batista Credits to : Wikipedia

And my note is that, the story is great! I like it so much [there isn't bishounen around save for Shirota, but yeap... still, it's fascinating!!]!
I'm going to rent the rest episodes [since I've only watched until the 10th episode].

However [spoiler alert!] Shirota had to die in the first place!!! He died on episode 8. And you know, he did something about the 5th patient [he, okay, killed the patient using modified electrodes along the Swan-Ganz catheter to burn the heart], and Taguchi and Shiratori immediately found out because they persisted the Team Batista to lend them the dead body of the ojiisan to do A.I [Autopsy Imaging] using MRI scanner. And... so, Himuro aka Shirota escaped just when the police about to get him in the hospital. He ran away to New Sakuranomiya building and plan suicide!!!

I cried, cried, sobbed and all that stuff till my eyes swollen and red when I watched this episode [Shirota had blurry eyes, nearly burst into tears] because he had to die!!! HUWAAAAA!!! But the most touching part is when he mentioned about coming home after series of surgeries and he found his hamster died curling up in its cage. He shed a tear and suddenly felt funny for he had killed so many animals to become an anaesthetist. HUWAAAAAAA!!! again.

It's a must-seen dorama!! 

Hello... I'm a Newbieeee....

Hajimemashite Desyaoi-chan desu. I'm a newbie! So please help me to manage my page ^-^
I love Shirota Yuu. I used to be addicted to Hyde and L'Arc~en~Ciel [started on year 2005], but lately fresh, 1980s born bishounen playing doramas really took my heart away! Couldn't help it ><
Other than Shirota, I love Airu Shiozaki, Tomo Yanagishita, Takumi Saitou, Ryuunosuke Kawai, Kotani Yoshikazu, Keisuke Kato... yeah, there are many more. Only, only... I don't really like the more famous ones [e.g Kame, MatsuJun et.al]. Because... um... dunno, it's only my preference.
Haha, so please don't feel offended.
My mood has always been yaoi [even when I'm in class and the lecture is boring, I'll start thinking yaoi things, hehe] and probably will always be like that I dunno for how long...
I've wached many yaoi muvis recently, and kinda absorbed. But don't get me wrong because I actually prefer shounen-ai-sh things more. Hentai stuffs aren't in my list. I've watched yaoi graphic ones, but I didn't feel good watching it. I was like, "Hello, romanticism??? Where's it???" I enjoy hugs and kisses more than intercourses. So probably yaoi term doesn't suit that much, but anyway... I'm kinda getting used to use that term, so... let it be, and please be gentle with it...
And, yoroshiku onegaishimasu....



Tags: